Beras Taj Mahal di Area Berkapur

on Sabtu, 10 Juli 2010



09 Juli 2010

BERAS Taj Mahal dikenal sebagai varietas Mani Chamba yang ditanam secara organik 100 %, dan hanya dapat ditanam di area berkapur. Padi Taj mahal masak di tangkai selama tujuh bulan, dan untuk menjadi beras perlu diproses secara scientific.


Padi yang hanya ditanam di area berkapur di India Selatan ini, dijadikan sebagai nasi, tidak sekadar untuk membuat orang kenyang. Lebih dari itu, beras ini bermanfat mencegah kegemukan, keropos tulang, kanker usus, dan mencegah penuaan dini.

Selain itu, melalui pola makan nasi dari beras jenis ini, akan dapat membantu mengatasi masalah pencernaan, kabur penglihatan, linu tulang, dan masalah saluran air kencing. Serta membantu mengatasi berat badan (mempercepat proses diet).
Gabah yang dituai dan distiem secara gradual dengan suhu terkontrol ini, memiliki kadar gula dan fat rendah tidak berkanji, kaya mineral, kalsium, phosporus, zinc, protein, berkabohidrat complex serta fiber soluble (serat larut). 
Untuk itu, kebaradaannya menjadi salah satu dari 10 produk kesehatan dunia. Oleh Healthier Choice Singapore dan Australia International Diabetes Insitute ABN, beras tersebut dianggap mukjizat.
Pasalnya, di tengah uji klinis obat diabetes, ejakulasi dini yang dilakukan cukup rumit dan tak jelas hasilnya, muncul beras yang dapat mengatasi penyakit tersebut.

Dari hasil laborat, serat larut dalam beras ini, dapat menyerap toxid (racun), kelebihan gula dan lemak, serta memperlancar buang air besar. Beras Taj Mahal dikonsumsi penderita diabetes untuk mengontrol dan menstabilkan gula darah.

Berdasarkan hasil kajian balai POM dan Dinas Kesehatan, Kementerian Perindag mengeluarkan izin impor untuk memenuhi konsumen pengguna terapi kesehatan. Impor dilakukan melalui pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, dan Tanjung Emas Semarang.

Sembuh

Menurut Direktur CV Quasindo, S Evi Julianti SE Ad CA, (importir beras kesehatan), beras Taj Mahal yang belakangan ini tidak kelihatan di pasaran, kini dapat dijumpai lagi di berbagai swalayan, apotek, dan toko buah dalam kemasan plastik berat lima kilogram dan satu kilogram.

‘’Beras ini akan selalu diusahakan ada. Mengingat keberadaanya tidak lepas dari upaya untuk menyehatkan masyarakat,’’ kata S Evi Julianti, di Semarang, belum lama ini.

Keajaiban beras ini telah diakui dr Sarwono, spesialis diabetes. Hasil penelitiannya, dari 30 pasien yang menderita diabetes atau kencing manis, sembuh setelah mengonsumsi makanan asal India Selatan ini.
Bahkan dari catatannya yang menarik, beberapa penderita gagal ginjal juga sembuh setelah mengkonsumsinya sebagai makanan sehari-hari. Oleh sebab itu, mereka yang telah menikmatinya menyatakan kehebatan bahan pokok makanan ini.

Seperti dikatakan Ny Maryati (65), penderita diabetes, yang tinggal di Solo, sekarang bisa makan nasi sekenyangnya (beras taj mahal, red) tanpa khawatir gula darahnya naik atau mengidap komplikasi penyakit lainnya.

Demikian halnya dengan Sulastrio (29), warga Magelang. Dia mengatakan, sekarang bisa makan sekenyangnya tanpa khawatir berat badannya naik. ‘’Makan nasi dari beras ini, berat badan saya tetap ideal dan tambah bugar,’’ tuturnya.

Dunia selebriti pun telah merasakan manfaatnya. Mereka menjadikan beras ini sebagai pengganti nasi biasa. Bahan makanan spesifik ini, beredar di Jateng, Jabar, Jatim, Sumatera, Kalimantan, dan daerah lain di Indonesia.(Priyonggo-12)
 



sumber : www.suaramerdeka.com

0 komentar:

Posting Komentar