Kotoran Sapi Ini Bisa Untuk Menyalakan Lampu

on Kamis, 15 Juli 2010

Rabu, 3 Maret 2010 | 22:38 WIB


KOMPAS/LASTI KURNIA

BONDOWOSO, KOMPAS.com - Warga Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur memanfaatkan kotoran sapi menjadi biogas sebagai bahan bakar alternatif dalam mengatasi krisis energi di daerah itu.


Hal itu mendapatkan apresiasi dari PT Pembangkit Jawa-Bali (PJB) dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso dengan meresmikan sebuah tempat pengolahan kotoran sapi menjadi biogas di Desa Sumber Tengah, Kecamatan Binakal, Kabupaten Bondowoso, Rabu (3/3/2010)
Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) PT PJB, Adi Supriono, mengatakan, pemanfaatan kotoran ternak menjadi biogas melalui teknologi tepat guna ini mudah dilakukan sehingga ke depan masyarakat bisa mengembangkan sendiri.

"Kami mengembangkan 10 unit biogas di beberapa desa di Kabupaten Bondowoso. Sebelumnya kami sudah mengembangkan biogas di Pacitan, Pasuruan, Trenggalek, dan Magetan," kata Adi.

Proses pembuatan biogas tersebut sangat sederhana, kotoran sapi yang menumpuk dicampur air lalu dimasukkan ke dalam bak penampungan bersama mikroba.

Kemudian endapannya menghasilkan biogas dan bisa digunakan untuk menyalakan lampu, menghidupkan generator, dan memasak dengan menggunakan kompor yang dibuat secara khusus.

Ia berharap, unit pengembangan biogas tersebut dapat bermanfaat untuk masyarakat Kabupaten Bondowoso sebagai bahan alternatif dalam mengatasi krisis energi.

Sementara itu, Bupati Bondowoso, Amin Said Husni, menyambut gembira program biogas dari PT PJB yang dikembangkan di daerahnya itu.

"Di Desa Sumber Tengah banyak warga yang memelihara sapi dan kotorannya dibuang begitu saja. Dengan pengolahan teknologi tepat guna seperti ini, masyarakat dapat memanfaatkan untuk energi listrik dan memasak," kata Amin.

Desa Sumber Tengah, akan menjadi bersih karena sejumlah warga disini mengubah kotoran sapi menjadi biogas sehingga bisa menyehatkan lingkungan sekitar.

"Saya yakin pengembangan unit biogas ini dapat meningkatkan perekonomian masyarakt desa setempat," kata Bupati.

1.300 Reaktor Biogas Rumah Dibangun di Jawa

Kamis, 15 April 2010 | 21:26 WIB
SOLO, KOMPAS.com - Selama tahun 2010 diharapkan dapat dibangun 1.300 unit reaktor biogas rumah (BIRU) di Pulau Jawa, khususnya di Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Barat. Program ini bagian dari pembangunan 8.000 unit reaktor biogas yang ditargetkan terbangun hingga tahun 2012.
Program BIRU difokuskan untuk peternak sapi perah guna memenuhi kebutuhan energi rumah tangga di pedesaan. Selain itu, program ini diharapkan dapat mengatasi problem lingkungan yang kerap timbul dari keberadaan peternakan sapi perah berupa bau tidak enak dan limbah.
Sejak diluncurkan akhir tahun 2009, menurut Manajer Program BIRU, Robert de Groot dari lembaga swadaya masyarakat Hivos, hingga kini baru terbangun 111 unit reaktor. Sebanyak 111 unit lainnya siap dibangun. "Kami mencari lokasi program di wilayah yang banyak peternak sapi perahnya. Untuk sapi pedaging dikhawatirkan tidak dapat menyuplai bahan baku gas karena dapat sewaktu-waktu dijual," kata Robert usai workshop koordinasi dan implementasi program BIRU di Kota Solo, Kamis (15/4/2010).
Kepala Subdirektorat Energi Pedesaan Direktorat Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Dadan Kusdiana mengatakan, dengan program ini diharapkan dapat membangun ketahanan energi masyarakat pedesaan. Ketergantungan pada energi, seperti gas elpiji atau minyak tanah dapat dikurangi. Masyarakat pun bisa dapat lebih menghemat pengeluarannya untuk mendapatkan energi.
Ketua Koperasi Unit Desa (KUD) Mojosongo Sentoso mengatakan, ia sudah enam bulan menggunakan biogas dari hasil olah kotoran sapi perahnya. Ia mengeluarkan uang Rp 3,5 juta untuk membangun reaktor berukuran 6 meter kubik. Pemerintah Belanda melalui program ini memberikan bantuan Rp 2 juta per reaktor. Sudah 18 reaktor yang terbangun di Desa Mojosongo, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali. Uang Rp 3,5 juta merupakan pinjaman dari KUD yang dicicil setiap bulan selama 2 tahun dengan bunga ringan.
"Biasanya setiap bulan saya keluar Rp 150.000 untuk beli biogas. Sekarang biogas gratis tapi harus mencicil Rp 120.000 per bulan. Mudah-mudahan reaktor berumur sampai 20 tahun seperti rencana sehingga kami diuntungkan," kata Sentoso.

Limbah Tahu Bisa Gantikan Elpiji, Lho

Senin, 5 Juli 2010 | 18:44 WIB


TEMANGGUNG, KOMPAS.com - Warga Brojolan Barat, Kelurahan Temanggung I, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah mengolah air limbah pabrik tahu menjadi biogas dan dimanfaatkan sebagai bahan bakar pengganti minyak tanah atau gas elpiji untuk menyalakan kompor.

Bendahara Kelompok Swadaya Masyarakat Tirta Guna, Brojolan Barat selaku pengolah limbah, Bambang Kusnanto di Temanggung, Senin (5/7/2010) mengatakan penggunaan bahan bakar dari biogas limbah pabrik tahu itu dilakukan sejak Desember 2008.
Ia mengatakan, di wilayah Brojolan Barat terdapat delapan pabrik tahu dan selama ini air limbah pabrik tahu cenderung membuat pencemaran lingkungan.
"Berawal dari kondisi tersebut maka muncul pemikiran untuk mengolah limbah tersebut menjadi bahan bakar," katanya.
Bambang menyebutkan, saat ini ada 29 kepala keluarga Brojolan Barat yang bisa memanfaatkan bahan bakar biogas itu untuk memasak.
"Baru 29 kepala keluarga yang bisa memanfaatkannya, karena kapasitas pengolahan limbah masih terbatas," katanya.
Secara ekonomis, penggunakan bahan bakar biogas ini lebih irit dibanding menggunakan gas elpiji dan lebih aman.
Menurut dia, dengan menggunakan bahan bakar secara tidak terbatas untuk keperluan rumah tangga, setiap kepala keluarga ditarik iuran Rp 30 ribu per bulan untuk operasional dan pemeliharaan instalasi.
Proses pengolahan limbah, yakni air manyon atau air limbah pabrik tahu dialirkan masuk inlet kemudian masuk degister dan terjadi proses fermentasi yang menimbulkan gas metan atau biogas.
"Biogas tersebut disalurkan ke rumah tangga dengan menggunakan pipa paralon dan siap digunakan sebagai bahan bakar," katanya.
Ia mengatakan, agar air limbah itu bisa ramah lingkungan maka dari degister masuk ke bak pelimpah dan dialirkan ke instalasi pengolah air limbah, setelah itu baru dibuang ke sungai.
Seorang warga yang menggunakan biogas tersebut, Ny. Asmirah (63) mengatakan dengan menggunakan biogas harga lebih murah.
"Dengan harga Rp 30 ribu perbulan, kami bisa menggunakan bahan bakar sepanjang hari dengan tidak terbatas sehingga pengeluaran uang bisa lebih irit," katanya.

Demi "Si Hitam" Petani Wajib Sekolah

on Senin, 12 Juli 2010

Demi "Si Hitam" Petani Wajib Sekolah

AGROEKOSISTEM
Senin, 12 Juli 2010 | 15:06 WIB
Foto: Josephus Primus
Seorang petani di kawasan Sompok, Imogiri, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Selasa (27/4/2010), sedang membersihkan lahan kedelai hitam varietas mallika dari rumput pengganggu. Mallika kini makin dikembangkan dengan sistem kemitraan mulai dari kalangan akademisi, petani, hingga pelaku industri. Salah satunya, Unilever.
KOMPAS.com - Kedelai hitam yang merupakan bahan pokok pembuatan kecap mesti dijaga pasokannya. Hal semacam itulah yang kemudian menjadi salah satu landasan bagi Unilever sebagaimana warta yang diterima kompas.com, Senin (12/7/2010).
 

Bekerja sama dengan Yayasan FIELD (Farmer Initiatives for Ecological Livelihoods and Democracy) Indonesia, Yayasan Unilever Indonesia menggelar kegiatan sekolah petani di Dusun Gondang, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Gelaran sejak Minggu (28/3/2010) berakhir pada Minggu (27/6/2010).
FIELD merupakan sekolah petani untuk pengelolaan agroekosistem bagi petani kedelai hitam. Tujuannya, untuk meningkatkan kemampuan petani dalam pengelolaan tanaman yang sering disebut "si hitam" ini berbasis analisa agroekosistem, membangun organisasi petani yang kuat sebagai modal sosial untuk membangun ekonomi petani, metode belajar andragogy (orang dewasa),participatory (keikutsertaan) dan belajar dari pengalaman. Program ini dilaksanakan di tujuh kabupaten yaitu Bantul, Kulon Progo, Ngawi, Madiun, Nganjuk, Trenggalek, dan Pacitan.
Dengan mengikuti sekolah ini, petani diharapkan mampu menjalankan metode berbasis pengelolaan agroekosistem kedelai hitam untuk hasil yang lebih baik sehingga bisa bermanfaat bagi peserta sekolah petani pada khususnya dan masyarakat petani pada umumnya.
"Kami senang program kami dapat memberikan dampak sosial, ekonomi serta lingkungan yang signifikan di tujuh kabupaten di pulau Jawa, dan kami berharap program ini dapat terus dikembangkan lagi,” kata Direktur PT Unilever Indonesia Tbk, Josef Bataona.

WASPADAI CUACA EKSTREM Sayuran, Padi, dan Tembakau Rusak

on Sabtu, 10 Juli 2010

Kamis, 8 Juli 2010 | 08:12 WIB


KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA
Cuaca ekstrem seperti panas terik kemudian tiba-tiba turun hujan disertai awan gelap

KUPANG, KOMPAS.com — Dampak multidimensi kini mulai merayap dari daerah ke daerah menyusul terjadinya anomali cuaca akibat pemanasan global saat ini. Masyarakat perlu mewaspadai dampak anomali cuaca itu karena hujan deras dan banjir mendadak bisa muncul.
Di sisi lain, tanaman sayuran, padi, dan tembakau di sejumlah daerah rusak hingga hancur karena terkena dampaknya. Pemerintah dinilai kurang peka terhadap masalah ini, padahal dampak susulannya jelas merugikan kalangan pekebun dan petani.
Sejumlah fakta dari Nusa Tenggara Timur, Maluku, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat menunjukkan dampak merugikan dari perubahan iklim ekstrem tersebut. Beberapa ahli dan praktisi mengingatkan perlunya antisipasi terhadap anomali cuaca.

Dosen Universitas Negeri Nusa Cendana Kupang Mikhael Riwu Kaho, Rabu (7/7/2010), mengingatkan dampak turunnya hujan beberapa hari terakhir telah mengakibatkan banjir dan merendam ribuan rumah di sejumlah kecamatan di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.
”Ini penyimpangan cuaca. Suhu permukaan laut di wilayah Sumatera panas dan tiba-tiba kita di NTT, terutama kawasan Belu dan sekitarnya, hujan lebat sampai terjadi banjir. Ini perlu mitigasi secara dini,” ujar Mikhael.

Menurut Mikhael, kondisi anomali cuaca ini bisa terjadi secara mendadak dan sporadis. Pemerintah tidak boleh membiarkan masyarakat hidup dalam kondisi santai dan mengabaikan dampak pemanasan global.

Di Nusa Tenggara Timur, anomali cuaca memicu hujan deras dan angin ribut mendadak karena wilayah ini hanya memiliki 11 persen tutupan hutan.

Kepala Stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandung Jumadi, Rabu, menambahkan, musim kemarau di Jawa Barat akan mundur akibat krisis atmosfer dan pertumbuhan angin di sepanjang Laut Jawa serta tekanan angin rendah di sejumlah tempat, seperti Australia.

Kondisi itu, menurut Jumadi, mengakibatkan anomali cuaca di sebagian besar wilayah Jawa Barat, ditandai dengan hujan terus-menerus. Musim kemarau yang diperkirakan jatuh pada Juni ternyata mundur hingga pertengahan Juli. Saat ini curah hujan di Jawa Barat rata-rata 50 milimeter per dekade atau per 10 hari.
”Musim kemarau diperkirakan jatuh pada Juli ini karena curah hujan mulai berkurang, mendekati kering,” kata Jumadi.

Meski demikian, kondisi itu dinilai tidak banyak berdampak terhadap kegiatan masyarakat, termasuk pertanian. BMKG Stasiun Meteorologi Pattimura, Ambon, juga memprakirakan cuaca buruk itu akan berlangsung hingga September.

Pihak BMKG Jakarta, Endro Santoso, Kepala Bidang Informasi Klimatologi dan Kualitas Udara BMKG, Selasa, menyatakan, anomali cuaca berupa curah hujan di atas normal pada kemarau ini akan berlangsung hingga November akibat fenomena La Nina di Samudra Pasifik.

Dampak pada pertanian

Di Indramayu, Jawa Barat, tanaman cabai merah, bawang merah, tomat, dan kentang banyak yang gagal panen karena serangan hama. Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Kabupaten Bandung Hans Sambas mengatakan, hujan mengakibatkan meningkatnya kelembaban tanah. Kondisi itu memicu timbulnya hama tikus dan wereng.

”Tikus dan wereng suka tinggal di daerah lembab. Dengan hujan yang tidak kunjung henti, jenis hama tanaman itu merajalela. Saya menerima laporan dari anggota yang sawahnya diserang tikus. Luasan total belum diketahui,” tutur Hans.

Ketua Harian Dewan Hortikultura Nasional Benny A Kusbini, Rabu di Indramayu, mengatakan, kemarau basah mengakibatkan banyak kebun sayuran gagal panen. Tingkat kegagalannya beragam, 30-100 persen. ”Kegagalan ini tidak hanya dirasakan petani sayur di Jawa Barat, tetapi juga petani sayur di Jawa Tengah dan Jawa Timur,” ungkapnya.

Ia menegaskan, hampir semua petani sayur di Jawa gagal panen karena hujan terus terjadi. Muhidi, petani sayuran bunga kol di Kecamatan Sukra, Indramayu, mengatakan, hujan berlebihan membuat hama dan jamur cepat berkembang biak.

Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Jember, Jawa Timur, Totok Hariyanto melaporkan kerugian yang diderita petani akibat cuaca ekstrem itu. Hal senada diungkapkan Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Jember Hari Widjajadi, yang melihat banyak petani terpaksa membiarkan lahan mereka bero.

Di Provinsi Maluku, cuaca ekstrem memicu munculnya gelombang laut yang tinggi serta menghambat nelayan dan transportasi laut. Nelayan di tiga tempat, yaitu Ambon, Kabupaten Maluku Tengah, dan Kabupaten Aru, memutuskan untuk tidak melaut.

Cuaca ekstrem juga menghambat transportasi barang dan menjadikan naiknya harga bahan kebutuhan pokok berupa beras, gula, dan telur yang didatangkan dari Surabaya dan Makassar. (KOR/THT/SIR/APA/REK/YUN)

Ribuan Bunga Langka Bisa Punah


Sabtu, 10 Juli 2010 | 10:59 WIB


KOMPAS/MOHAMMAD HILMI FAIQ ilustrasi
KOMPAS.com — Menurut hasil penelitian terbaru, ribuan spesies tanaman bunga langka di seluruh dunia mungkin akan punah sebelum para ilmuwan dapat menemukan mereka.


Penelitian bersama oleh para ilmuwan Inggris dan Amerika mencatat hilangnya habitat dan perubahan iklim sebagai ancaman bagi semua spesies tersebut.


Mereka menggunakan metode baru guna melengkapi perkiraan mengenai jumlah semua spesies tanaman bunga, dan memperhitungkan berapa banyak di antara spesies itu yang masih belum terungkap.
Temuan mereka dimuat para Rabu (7/7/2010) di jurnal Proceedings of the Royal Society B. "Para ilmuwan telah memperkirakan bahwa secara keseluruhan, terdapat antara 5 juta dan 50 juta spesies. Namun, yang ditemukan saat ini baru kurang dari dua juta spesies," kata penulis utama penelitian tersebut, Lucas Joppa, dari Microsoft Research di Cambridge, Inggris. Ia menerima gelar doktor dari Duke University awal tahun ini.

Berdasarkan data dari World Checklist of Selected Plant Families at the Royal Botanic Gardens, Inggris, yang tersedia dalam jaringan, para ilmuwan memperhitungkan bahwa ada antara 10 dan 20 persen lebih spesies tanaman bunga yang belum ditemukan dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Menurut para peneliti itu, antara 27 dan 33 persen dari semua tanaman bunga diperkirakan akan terancam punah jika melihat bahwa jumlah spesies yang saat ini diketahui terancam dan sejumlah spesies belum ditemukan.

"Tahun 2010 adalah Tahun Keragaman Hayati Internasional. Kami menulis dokumen ini untuk membantu menjawab pertanyaan nyata: berapa banyak keragaman hayati yang ada di luar sana? dan kita akan kehilangan berapa banyak spesies bahkan sebelum mereka ditemukan?" kata penulis bersama penelitian tersebut, Stuart Pimm, Profesor of Conservation Ecology Doris Duke di Duke’s Nicholas School of the Environment.

Temuan itu memiliki "dampak pelestarian yang sangat besar karena setiap spesies yang tak dikenal tampaknya sangat langka dan terancam," kata Joppa.

Spirulina, Ganggang Penggempur Penyakit


09 Juli 2010

TAHUKAH  Anda dengan Spirulina? Sprirulina adalah tumbuhan Mikro Ganggang yang telah hidup sejak sekitar 3,6 miliar tahun yang lalu. Spirulina merupakan sumber nutrisi alami yang paling lengkap dibandingkan dengan sumber nutrisi lain yang pernah ada. 


Spirulina adalah sejenis ganggang hijau-biru yang ditemukan pada danau dan kolam. Ganggang ini telah dikonsumsi sejak ribuan tahun oleh bangsa Meksiko (Aztec dan Maya), Afrika dan Asia.
Lima abad lalu, penduduk di sekitar Danau Texcoco, Meksiko, memiliki kebiasaan menyantap camilan biskuit setiap hari. Namun, bukan sembarang biskuit yang dilahap. Biskuit yang disebut tecuitlatl itu, dibuat dari ganggang biru kehijauan yang diperoleh dari kedalaman danau. Karena senang memakan biskuit itu, penduduk Danau Texcoco jarang sakit. 
Begitu juga penduduk di Danau Chad, Afrika pun sehat-sehat. Setelah diselidiki mereka diketahui sering mengkonsumsi dihe. Penganan mirip kue kering itu dibuat dari spirulina. Penduduk mengumpulkannya dengan kelambu pada musim panas saat terjadi booming spirulina di danau.

Dan ternyata di zaman modern seperti sekarang ini, spirulina menjadi hal yang cukup penting di negara-negara berkembang seperti halnya di Indonesia sebagai bahan makanan suplemen yang berguna bagi kesehatan.

Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan spirulina menjadi makanan ideal untuk konsumsi manusia. Begitu juga FDA (Food & Drugs Authority) dari Amerika Serikat, mengizinkan spirulina untuk dijual sebagai suplemen makanan alamiah.
Di Jepang dan AS, para eksekutif bisnis memanfaatkan tablet-tablet spirulina dalam memerangi stres. Sementara para atlet dan pelari mengonsumsi spirulina untuk mendapatkan energi secara cepat.

Vitamin Lengkap

Spirulina termasuk dalam ganggang hijau biru dan merupakan monera, karena struktur selnya sama dengan struktur sel bakteri, yaitu bersifat prokariotik.

Ganggang hijau biru berukuran mikroskopis. Ganggang hijau biru tersebar luas, banyak ditemukan di perairan tanah yang lembab, dan permukaan dinding tembok, pot, batu karang yang lembab.
Bahkan ditemukan pula di tempat yang kurang menguntungkan lingkungannya. Beberapa jenis dijumpai pada sumber air panas seperti mata air panas Yellow Stone Park di Amerika.

Ganggang biru kehijauan itu juga memiliki vitamin dan mineral yang lengkap. Spirulina termasuk satu-satunya tumbuhan yang mengandung vitamin B kompleks terlengkap: B1, B2, B3, B6, dan B12. Setiap 10 g spirulina mengandung vitamin B1 (thiamin) 0,31 mg, B2 (riboflavin) 0,35 mg, B3 (niacin) 1,46 mg, B6 (pyridoxine) 80 mcg, dan B12 (cobalamine) 32 mcg.
Peran vitamin B sangat penting. Misal vitamin B12, membantu pembentukan sel darah merah, sumsum tulang, dan memperbaiki sistem saraf.

Vitamin B12 juga dapat mengurangi risiko serangan jantung dan stroke. Vitamin B12 merupakan koenzim yang penting untuk sintesis DNA dalam mengontrol pembentukan sel-sel baru, ujar Ali Khomsan, doktor ilmu home economics education dari Iowa State University di Amerika Serikat.
Vitamin A dan betakaroten yang demikian tinggi di dalam spirulina-23.000 IU per 10 g-memiliki fungsi sebagai antioksidan. Kandungan betakaroten dalam spirulina mencapai 10 kali lipat lebih banyak daripada lobak dan wortel, ujar Ali Khomsan.

Cegah Kanker

Mereka dapat mencegah kanker, menjaga kesehatan sel-sel tubuh, dan memperbaiki fungsi mata. Peran lain sebagai tembok penghalang berkembangnya tumor ganas dan perubahan kromosom.

Vitamin A, D, B12, betakaroten, dan mineral yang dimiliki spirulina mempunyai peranan penting dalam pembentukan tulang. Vitamin D bersama kalsium dapat memperkuat tulang dan gigi.

Hasil penelitian Carlos Jime’nez dari Department of Ecology, University of Malaga di Spanyol Menunjukkan kalsium selain mengeraskan tulang, juga berfungsi meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
Spirulina mulai dikenal luas setelah seorang professor Perancis Crammond, menemukan rahasia kekuatan fisik suku Ganimu yang tinggal di tepi danau Cad Afrika tahun 1963.

Ternyata penduduk setempat makan makanan berwarna hijau dan ternyata mencakupi gizi yang dibutuhkan untuk beraktivitas, fisik mereka pun bagus. Setelah diteliti ternyata makanan yang istimewa itu adalah ganggang Spirulina (ganggang hijau).

Setelah diteliti lebih jauh, ternyata Spirulina adalah tanaman tertua yang sudah ada di muka bumi sejak 350 juta tahun lalu dan merupakan makanan yang mengandung nutrisi paling lengkap.

Selain berpotensi sebagai bahan pangan alami yang bermutu tinggi, spirulina juga memberikan harapan bagi keperluan lain, apalagi kesempatan bisnisnya yang menggiurkan. Yang nyata dan sudah dikembangkan dari spirulina adalah sebagai zat pewarna, industri farmasi dan pakan ikan.

Saat ini, budidaya plankton spirulina menjadi fenomena di seluruh dunia karena kualitas nutrisinya yang luar biasa.  Spirulina merupakan sumber alamiah tunggal, “superfood” yang menyediakan dalam jumlah besar protein bagi manusia.

Spirulina mengandung 71% protein. Protein yang terkandung dalam spirulina tiga kali dari kacang kedelai, lima kali daging, dan kualitas protein di antara yang terbaik.

Manfat Spirulina

Apa saja sebenarnya manfaat spirulina? Dalam dunia kesehatan, spirulina dikenal dapat meringankan diabetes, mengendalikan kolesterol, penambah vitamin A, mengatasi kekurangan gizi, membantu penderita kanker dalam menjalani kemoterapi, formulasi dengan produk alamiah lain sebagai suplemen kesehatan, mampu memperbaiki kerusakan liver, terapi luka bakar, pencangkokan kulit, mengontrol kegemukan, dan laktasi untuk ibu menyusui.

Sedangkan di dunia perikanan, digunakan untuk pakan khusus ikan hias karena dapat memperkaya warna pada ikan koki dan koi, formulasi dengan pakan yang ada untuk menambah vitamin, pakan berprotein tinggi untuk ikan konsumsi (air tawar), juga pakan spesial untuk peternakan udang.

Spirulina ternyata juga cocok untuk lotion jerawat, facial, minyak rambut, shampoo, mineral untuk mandi, pembersih kulit, dan pasta gigi.

Menariknya, spirulina telah digunakan di Rusia untuk merawat anak-anak korban tragedi nuklir di Chernobyl. Pada anak-anak ini, yang sungsum tulangnya telah rusak akibar terpapar radiasi, spirulina tampaknya dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuhnya.

Ganggang berbentuk spiral ini merupakan bagian dari 1.500 spesies tumbuhan air mikroskopik. Di antaranya adalah Spirulina major, S. pricept, S. sustilissima, S. Cutra, S. caldria, S. spirulinoides. Namun spesies yang biasa dikonsumsi manusia adalah jenis Spirulina maxima dan Spirulina platensis.

Tidak ada efek samping yang pernah dilaporkan dengan mengonsumsi spirulina. Namun demikian, karena spirulina bisa mengakumulasi logam-logam berat dari air yang tercemar, maka konsumsi spirulina dari kawasan tersebut dapat meningkatkan kandungan tembaga dan air raksa dalam tubuh.

Anda tertarik untuk mengonsumsinya? Tumbuhan ini juga bisa dibudidayakan di dalam wadah atau akuarium di dalam maupun di luar ruangan, khususnya untuk dipanen menjadi suplemen makanan.

Untuk suplemen makanan, saat ini produk spirulina sudah banyak dijual di apotek, spirulina tersedia dalam bentuk serbuk, serpihan, kapsul, atau tablet, dengan kemasan menarik serta beragam merk dagang yang memenuhi pasaran. Selamat mencoba. (Dela SY, dari berbagai sumber-12)
 

sumber : www.suaramerdeka.com

Beras Taj Mahal di Area Berkapur



09 Juli 2010

BERAS Taj Mahal dikenal sebagai varietas Mani Chamba yang ditanam secara organik 100 %, dan hanya dapat ditanam di area berkapur. Padi Taj mahal masak di tangkai selama tujuh bulan, dan untuk menjadi beras perlu diproses secara scientific.


Padi yang hanya ditanam di area berkapur di India Selatan ini, dijadikan sebagai nasi, tidak sekadar untuk membuat orang kenyang. Lebih dari itu, beras ini bermanfat mencegah kegemukan, keropos tulang, kanker usus, dan mencegah penuaan dini.

Selain itu, melalui pola makan nasi dari beras jenis ini, akan dapat membantu mengatasi masalah pencernaan, kabur penglihatan, linu tulang, dan masalah saluran air kencing. Serta membantu mengatasi berat badan (mempercepat proses diet).
Gabah yang dituai dan distiem secara gradual dengan suhu terkontrol ini, memiliki kadar gula dan fat rendah tidak berkanji, kaya mineral, kalsium, phosporus, zinc, protein, berkabohidrat complex serta fiber soluble (serat larut). 
Untuk itu, kebaradaannya menjadi salah satu dari 10 produk kesehatan dunia. Oleh Healthier Choice Singapore dan Australia International Diabetes Insitute ABN, beras tersebut dianggap mukjizat.
Pasalnya, di tengah uji klinis obat diabetes, ejakulasi dini yang dilakukan cukup rumit dan tak jelas hasilnya, muncul beras yang dapat mengatasi penyakit tersebut.

Dari hasil laborat, serat larut dalam beras ini, dapat menyerap toxid (racun), kelebihan gula dan lemak, serta memperlancar buang air besar. Beras Taj Mahal dikonsumsi penderita diabetes untuk mengontrol dan menstabilkan gula darah.

Berdasarkan hasil kajian balai POM dan Dinas Kesehatan, Kementerian Perindag mengeluarkan izin impor untuk memenuhi konsumen pengguna terapi kesehatan. Impor dilakukan melalui pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, dan Tanjung Emas Semarang.

Sembuh

Menurut Direktur CV Quasindo, S Evi Julianti SE Ad CA, (importir beras kesehatan), beras Taj Mahal yang belakangan ini tidak kelihatan di pasaran, kini dapat dijumpai lagi di berbagai swalayan, apotek, dan toko buah dalam kemasan plastik berat lima kilogram dan satu kilogram.

‘’Beras ini akan selalu diusahakan ada. Mengingat keberadaanya tidak lepas dari upaya untuk menyehatkan masyarakat,’’ kata S Evi Julianti, di Semarang, belum lama ini.

Keajaiban beras ini telah diakui dr Sarwono, spesialis diabetes. Hasil penelitiannya, dari 30 pasien yang menderita diabetes atau kencing manis, sembuh setelah mengonsumsi makanan asal India Selatan ini.
Bahkan dari catatannya yang menarik, beberapa penderita gagal ginjal juga sembuh setelah mengkonsumsinya sebagai makanan sehari-hari. Oleh sebab itu, mereka yang telah menikmatinya menyatakan kehebatan bahan pokok makanan ini.

Seperti dikatakan Ny Maryati (65), penderita diabetes, yang tinggal di Solo, sekarang bisa makan nasi sekenyangnya (beras taj mahal, red) tanpa khawatir gula darahnya naik atau mengidap komplikasi penyakit lainnya.

Demikian halnya dengan Sulastrio (29), warga Magelang. Dia mengatakan, sekarang bisa makan sekenyangnya tanpa khawatir berat badannya naik. ‘’Makan nasi dari beras ini, berat badan saya tetap ideal dan tambah bugar,’’ tuturnya.

Dunia selebriti pun telah merasakan manfaatnya. Mereka menjadikan beras ini sebagai pengganti nasi biasa. Bahan makanan spesifik ini, beredar di Jateng, Jabar, Jatim, Sumatera, Kalimantan, dan daerah lain di Indonesia.(Priyonggo-12)
 



sumber : www.suaramerdeka.com

Menyulap Pohon Angker Jadi Indah


08 Juli 2010 | 21:44 wib
Melihat Bonsai dari Dekat (1)

image
SENIMAN bonsai Suroyo Sumpeno dengan pohon bonsai yang dipamerkan. (Foto Wisanggeni / CyberNews)

Oleh Bambang Iss
INGIN berbisnis dengan ekstra kesabaran, tapi mampu menangguk milyaran rupiah, maka bernisnislah tanaman bonsai. Karena untuk menciptakan sebuah pohon bonsai perlu waktu bertahun-tahun, perlu kesabaran, dari mulai mencari pohon bakalan, membentuknya, sampai menjadikannya matang, itu bukan dalam hitungan haru atau bulan tapi tahun. Paling cepat dua sampai tiga tahun.
Karena prosesnya membutuhkan waktu lama demi pencapaian estetika, maka produk bonsai menjadi tanaman berharga mahal. Bisa sampai milyaran rupiah untuk mendapatkan sebuah pohon bonsai berukuran besar dan bernilai artistik tinggi. "Harga paling rendah pun sampai ratusan juta," kata Suryo Sumpeno pakar bonsai yang lebih suka disebut petani bonsai ini. 


Tanaman mini yang mulai masuk di Indonesia sejak tahun 70-an yang bernilai ratusan juta sampai milyaran rupiah itu, dipamerkan dalam sepekan ini (9 - 16 Juli 2010) di Foodcourt Pondok Daun Kompleks Marina Semarang.
Di situ tidak saja dipamerkan sebanyak 478 jenis pohon bonsai berbagai jenis, tapi juga terdapat bursa jual beli bonsai, batu suiseki (batuan air) dan bahkan pengunjung bisa melihat demo membuat bonsai secara singkat.
Nilai historis.
Suryo menunjukkan sebuah bonsai koleksi salah seorang pengusaha yang pernah ditawar milyaran rupiah tapi tidak dilepas yang masuk kategori bonsai kelas bintang (katergori paling tinggi, red) "Karena pohon itu memiliki nilai historis dan pemiliknya turun temurun," cerita Suryo Sumpeno.
Pada pameran bonsai yang diselenggarakan PPBI (Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia) Cabang Semarang ini, untuk pertama kalinya memamerkan bonsai dalam 5 kategori, yakni kategori prospek (pemula), regional, madya, utama dan bintang. Karena selama ini pameran bonsai hanya menyediakan 2 kategori yakni ketegori madya dan utama. "Dimasukkannya kategori prospek semata-mata untuk mencari seniman-seniman bonsai pemula," kata Suryo Sumpeno.
Betul juga, karena pengurus PPBI menginginkan, dunia bonsai ini tidak hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja, tapi bisa juga jadi bisnis masyarakat luas.  (Bersambung)
(/CN13)
sumber : www. suaramerdeka.com